Senin, 10 Januari 2011

KOTA R O M A

Kota Roma tempat Paulus dipenjarakan tidak hanya merupakan pusat pemerintahan dari seluruh daerah Laut Tengah, tetapi juga merupakan kota yang paling ramai dan paling menarik di dunia.

Kota yang dilimpahi dengan kemewahan, sejarah, dan bangunan-bangunan megah ini disebut Kota Abadi. Di samping itu, dengan mengenal kebaikan dan keburukan yang ada di sepanjang jalan-jalannya, dan di antara air mancur-air mancur umum yang berjumlah lebih dari tiga ratus buah, beberapa orang dengan alasan kuat menamakan kota itu Selokan Kerajaan. Kota Roma tempat Paulus dirantai mengandung dua ekstrim. Tetapi sebelum kita mulai menyelidiki dan memasuki jalan-jalannya, marilah kita melihat bagaimana rasul besar ini sampai ke sana. Sebab betapapun juga, surat-surat yang ditulis Paulus dan pelaksanaan hukuman mati bagi Paulus di sebelah selatan kota merupakan sumbangan yang terbesar bagi kemasyhuran kota metropolitan yang dilintasi Sungai Tiber ini.

Setelah memohon kepada Caesar, Paulus dirantai kaki dan tangannya bersama tawanan-tawanan lain dan dikirim ke Roma untuk diadili. Setelah berhasil untuk tetap hidup dalam suatu kecelakaan kapal yang mengerikan, akhirnya ia mendarat di Puteoli. Dengan izin Yulius, pejabat Romawi yang menjaga para tawanan, Paulus tinggal di sana bersama kawan-kawannya selama seminggu. Kemudian ia berjalan kaki kembali ke Roma.

Sesampainya di Pasar Apius, empat puluh tiga mil sebelah selatan ibu kota, di Jalan Apia, Paulus disambut oleh sebuah delegasi orang-orang Kristen yang telah mengadakan perjalanan selama dua hari untuk menyambutnya supaya ia merasa terhibur di tengah-tengah kegelisahan. Sepuluh mil berikutnya di sebuah tempat penginapan yang disebut Tiga Kedai, ia disambut lagi oleh delegasi lain. Di sini, seperti yang dicatat Lukas, "ia mengucap syukur kepada Allah lalu kuatlah hatinya" (Kisah para Rasul 28:15).

Tidak diketahui siapa yang mengorganisasikan kelompok-kelompok penyambutan ini, tetapi menurut dugaan, orangnya adalah Epafroditus - seseorang yang memiliki suatu karunia, dan ia dikirim oleh Paulus dari gereja di Filipi. Ada juga yang mempertanyakan mengapa orang-orang Kristen di Roma begitu antusias menyambut Paulus. Satu-satunya alasan yang masuk akal ialah karena keadaan mereka telah dibicarakan dalam Kitab Roma yang ditulis Paulus di Korintus pada tahun 55 dan 56 -- lima atau enam tahun sebelum kedatangannya di Itali.

Paulus bersama dengan tawanan-tawanan lain memasuki Kota Roma dari Porta Capena. Sekarang tempat ini tidak dapat di ketahui di mana tepatnya. Tetapi kita tahu benar bahwa tempat ini terletak di bagian permulaan dari Jalan Apia. Pada waktu itu Paulus melewati Aqua Apia, sebuah bangunan tinggi yang berfungsi untuk menyalurkan air dan pada saat itu sudah berumur 350 tahun.

Jalan Apius berasal dari nama Appius Claudius, Caesar yang mulai membangun jalanan itu di tahun 312 s.M. Pada akhir masa hidupnya ia dijuluki sebagai "si buta" Appius Claudius Caecus. Menurut legenda, ia begitu sombong atas hasil yang telah dicapainya sehingga matanya dibutakan oleh para dewa. Jalan raya yang megah ini dipakai orang terus-menerus selama seribu tahun.

Menurut perkiraan, Yulius, penjaga Paulus itu, adalah seorang anggota Pengawal Praetorian. Jika hal ini benar, Paulus mungkin segera dibawa ke markas besar Praetorian di Bukit Palatine yang terletak di pusat Kota Roma. Tetapi ada beberapa orang yang berpendapat bahwa Yulius itu seorang utusan khusus dan seorang anggota Peregrini. Bila demikian halnya, Paulus mungkin telah dibawa ke perkemahan Peregrini yang terletak di sebelah kanan Bukit Caelian.

Jabatan atau tingkatan Yulius tidaklah penting. Tetapi untuk mendapatkan gambaran umum tentang Kota Roma kuno atau modern, penting untuk mengerti bahwa kota ini terdiri dari tujuh bukit rendah, dengan puncak datar yang berbatasan di sebelah barat Sungai Tiber yang berliku-liku dengan anggunnya.

Dahulu, demikian pula sekarang, orang-orang Romawi mengingat Roma karena bukit-bukit ini.

Pada waktu Paulus dipenjara, Roma diperkirakan berumur lebih dari 800 tahun. Mereka yang percaya bahwa kota ini didirikan oleh Romulus dan Remus - dua saudara kembar yang dibesarkan oleh seekor serigala - percaya bahwa kota itu didirikan pada tahun 753 s.M.

Kota ini berpenduduk kira-kira satu juta orang. Setengahnya terdiri dari para budak. Luas kota kira-kira 12 mil.

Setelah diserahkan oleh Yulius "ke kapten pengawal", Paulus diberi hak istimewa untuk tinggal bersama seorang prajurit "dalam rumah yang disewanya sendiri". Mungkin kemurahan hati ini direncanakan oleh Yulius yang telah belajar untuk menghargai dan mempercayai Paulus selama perjalanan yang mengerikan itu.

Menyewa rumah di Roma mahal, sekalipun di daerah yang paling miskin. Juvenal yang lahir di Roma sekitar tahun 60 atau 61 - kira-kira tahun kedatangan Paulus di kota itu - mengenal baik kota ini. Kepada seorang teman ia menulis: "Jika Anda dapat menahan diri untuk tidak pernah menonton sirkus, Anda dapat membeli rumah mewah di Sora ... sedangkan uang itu hanya cukup untuk menyewa sebuah loteng gelap di Roma selama setahun."

Mengingat bahwa Paulus pernah mengingatkan orang-orang Korintus, "Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara" (1Korintus 4:11), kita heran mengapa ia dapat menyewa tempat, meskipun tempat yang buruk sekalipun - terutama dengan pembayaran yang sah. Jawabannya ialah bahwa sumbangan yang diberikan oleh Epafroditus mungkin cukup banyak. Tidaklah sulit untuk membayangkan bahwa sebelum ia memulai perjalanannya sejauh 850 mil ke Roma, ia berkata kepada orang-orang Filipi, "Sekarang marilah kita berpikir secara liberal. Harga-harga di sini tinggi, tetapi di Roma lebih tinggi lagi."

Di Roma hanya ada sekelompok kecil golongan kelas menengah karena biasanya orang-orang Romawi kalau kaya, sangat kaya dan kalau miskin, sangat miskin. Orang-orang kaya membangun rumah-rumah yang luas dilengkapi dengan kolam renang dan taman khusus. Hanya sedikit saja rumah yang bertingkat lebih dari dua. Gudang di bawah tanah belum dikenal orang. Beberapa rumah memiliki pusat pemanasan. Kebanyakan panas itu dihasilkan oleh kompor arang yang mudah dipindah-pindahkan.

Lantainya dibuat dari beton atau ubin. Banyak di antaranya yang dihiasi dengan mosaik. Pipa ledeng dibuat dari timah - lembaran- lembaran timah dipalu dan dililitkan pada sebatang baja kecil membentuk sebuah pipa. Patung-patung yang mahal harganya menempati tempat-tempat terhormat dan lukisan-lukisan indah menghiasi dinding. Tambahan pula, kebanyakan rumah sedikitnya mempunyai sebuah air mancur, dan air hujan dialirkan dari atap melalui pancuran atap yang terbuat dari timah.

Orang-orang kaya hidup dalam kemewahan. Walaupun Lukas mengatakan kepada kita bahwa Paulus "tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya" (Kisah para Rasul 28:30), rasanya tak mungkin bahwa ia tinggal dalam sebuah rumah yang mahal. Kebanyakan para ahli setuju bahwa ruangan atau sederetan ruangan tempat tinggal Paulus itu pastilah salah satu dari rumah-rumah petak yang sangat banyak di Roma. Rumah-rumah petak itu begitu banyaknya sehingga disebut insulae -- pulau-pulau. Karena golongan pekerja tinggal di perumahan-perumahan ini, dan karena tidak ada kendaraan umum, kebanyakan insulae terletak di dekat pusat kota. Perumahan ini dibuat demikian supaya para pekerja dekat dengan tempat pekerjaannya.

Kaisar Agustus telah mengumumkan bahwa bagian muka sebuah bangunan tidak boleh dibangun lebih tinggi dari tujuh puluh kaki. Tetapi rupanya para pembangun mendapatkan suatu kelemahan dalam peraturan itu dan mereka membuat bagian belakang bangunan itu lebih tinggi daripada depannya. Martial yang hidup di Kota Roma pada tahun 64 menulis tentang "seorang malang yang tinggi lotengnya 200 anak tangga." Toko- toko dan kantor-kantor menempati lantai terbawah sebagaimana halnya dengan hotel-hotel modern.

Tanpa penerangan jalan, daerah sekitar sebuah insula menjadi berbahaya. Juvenal memberi komentar: "Dan sekarang perhatikan pelbagai bahaya di malam hari. Lihatlah betapa tingginya atap dari mana orang membuang pecahan tembikar yang sudah bocor dari jendela dan kemungkinannya jatuh di atas kepala saya. Lihat, betapa kerasnya tembikar itu terhempas hancur di atas trotoar! Ada kematian menuggu di setiap jendela yang terbuka sementara Anda melewatinya di waktu malam; Anda akan dianggap seorang bodoh, tidak bersiap-siap menghadapi kecelakaan mendadak, jika Anda pergi ke luar untuk makan malam tanpa memutuskan apa yang Anda lakukan. Anda hanya dapat berharap, dan memanjatkan doa permohonan dalam hati Anda, supaya mereka sudah cukup puas hanya dengan melemparkan air kotor dari ember ke atas kepala Anda."

Jika Epafroditus tidak secara kebetulan bertemu dengan seorang sahabat Paulus ketika ia memasuki kota itu, ia akan menghadapi banyak kesulitan dalam mencari Paulus. Hal ini bisa terjadi, karena orang Romawi tidak memberi nomor pada rumah-rumah mereka, dan jalan jalan kelas dua bahkan tidak diberi nama! Ada sebuah komedi kuno dari zaman Romawi yang masih tetap aktual untuk masa kini. Drama ini menunjukkan betapa sukarnya untuk mencari sebuah alamat di Roma. Percakapan berikut ini terjadi antara seorang budak yang bernama Syrus dan seorang tua yang bernama Demea:


Syrus : Saya tidak ingat lagi nama orang yang akan saya kunjungi, tetapi saya tahu di mana ia tinggal.
Demea : Baiklah, katakan di mana tempat itu.
Syrus : Ikutilah jalan menurun ini. Tahukah Bapak serambi di samping tukang daging?
Demea : Tentu saja.
Syrus : Ikuti jalan ini lurus ke depan dan tak jauh dari situ, ada sebuah jalan menurun di depan Bapak; ikutilah terus sampai kemudian di sana ada sebuah kapel kecil dengan sebuah gang di dekatnya.
Demea : Tempat mana yang kau maksud?
Syrus : Di tempat itu ada sebuah pohon ara yang tumbuh secara liar.
Demea : Saya tahu.
Syrus : Ya, tentu saja. Ya, ampun! Betapa bodohnya saya! Bapak harus kembali lagi ke serambi tadi. Ya, lagi pula itu lebih cepat dan tidak begitu memutar. Tahukah Bapak di mana Cratinus, si orang kaya itu tinggal?
Demea : Ya.
Syrus : Baik, lewati rumahnya, kemudian belok ke kiri jalanan ini, dan belok kanan pada Kuil Diana. Sebelum Bapak mencapai pintu gerbang kota, di dekat kolam, ada seorang tukang roti di depan toko alat-alat pertukangan. Di situ tempatnya.

(Dikutip dari buku Rome Its People Life and Customs karangan Ugo Paoli.)


Tetapi meskipun seseorang tahu persis ke mana ia harus pergi di dalam Kota Roma, ia mungkin masih menghadapi bahaya dalam perjalanan. Yuvenal menceritakan kepada kita bagaimana keadaan sebenarnya. "Kebanyakan orang sakit di Roma mati karena kurang tidur, penyakit itu sendiri diakibatkan oleh karena makanan yang tidak tercernakan di dalam perut. Bagaimana mungkin orang bisa tidur di penginapan yang keadaannya demikian? Siapa yang dapat tidur di Kota Roma kecuali orang-orang kaya? Di situlah letaknya akar dari kekacauan. Kereta- kereta yang simpang-siur di jalanan sempit dan berliku-liku, percakapan para pengemudi kereta ketika mereka berhenti pada sebuah warung, semua itu tidak memungkinkan seorang Drusus (seorang jenderal Romawi yang terkenal karena kekuatannya) - atau pun seekor anjing laut - dapat tidur. Bilamana orang kaya mendapat suatu panggilan tugas sosial, orang banyak membukakan jalan baginya sementara ia diusung dalam suatu kereta Liburnian yang besar. Orang kaya itu menulis atau tidur dalam perjalanan itu, sebab jendela tandunya yang tertutup menyebabkan ia bisa tertidur. Tetapi bila ia sampai di depan kita; bagaimana pun cepatnya kita menghindar, kita terhalang oleh sekelompok orang banyak di depan; dan sekelompok orang banyak lain di belakang: seorang pria menyikut saya, dan yang lain menyodok saya dengan ujung tandu; sebatang balok dan sebuah tong anggur membentur kepala saya. Kaki saya penuh dengan lumpur; kaki-kaki besar menginjak saya dari tiap sisi, dan seorang prajurit menancapkan tombaknya di atas jari kaki saya."

Kebanyakan orang Romawi yang keluar di malam hari membawa seorang budak di depannya sambil membawa sebuah lentera.

Roma mempunyai sistem pembuangan kotoran yang luas dan beberapa di antaranya masih dipakai sekarang, tetapi sudah tidak begitu berguna lagi. Di zaman Paulus, salah satu jalur utama dari jaringan ini disebut Cloaca Maxima. Sayang sekali, saluran besar yang sudah dibangun ratusan tahun sebelum tarikh Masehi ini membawa air hujan dan juga kotoran-kotoran. Bahkan lebih buruk lagi, saluran ini menuju Sungai Tiber!
Karena saluran raksasa ini membawa air dari angin topan, di jalan- jalan harus dibuat lubang-lubang besar. Akibatnya Kota Roma seringkali dipenuhi dengan bau busuk dari saluran ini.
Penemuan semen telah mendatangkan perubahan besar di Kota Roma. Caementicum dibuat dari campuran debu vulkanis dengan batu merah, pecahan marmer, dan pasir, mula-mula di kembangkan kira-kira tahun 200 s.M. Semen ini sangat keras dan tahan lama.

Dengan semen ini para insinyur mempunyai perlengkapan untuk membangun bangunan-bangunan raksasa, jalan-jalan, jembatan-jembatan, saluran air. Jumlah saluran air di Kota Roma ada empat belas. Saluran air ini panjangnya 1.300 mil - jarak dari Kota New York ke Omaha, Negara Bagian Nebraska -- saluran air yang terbuat dari batu dan bata ini dibuat melalui gunung-gunung, menyeberangi lembah-lembah, dan rawa- rawa. Saluran air ini mengirim air tiga ratus juta galon setiap hari.

Kelihatannya hal ini seperti pemakaian air yang berlebih-lebihan. Tetapi orang Romawi memerlukannya untuk air mancur mereka yang banyak jumlahnya, danau buatan, tempat pemandian umum yang luas dan taman- taman. Lebih dari itu, hampir setiap rumah memiliki sebuah bak mandi, dan orang Romawi mandi setiap hari. Tetapi kemudian, seperti juga sekarang, ada orang-orang yang menyadap saluran air itu secara diam- diam dengan maksud menghindari pembayaran. Ini berarti bahwa suatu regu penyelidikan harus dipekerjakan.

Jika Epafroditus tiba di Roma pada bulan Nopember, ia tidak akan melihat akibat dari banjir tahunan yang hampir setiap tahun terjadi. Tetapi jika ia datang di musim semi, dan jika ia datang melalui laut, ia mungkin akan merasa ngeri melihat penghancuran yang diakibatkan oleh banjir Sungai Tiber. Tacitus menulis: "Manusia tersapu oleh ombak atau terhisap oleh pusaran ombak; binatang-binatang penghela, muatan, dan mayat-mayat mengapung menghalangi jalan."

Emporium, bangunan untuk pusat perdagangan yang panjangnya seribu kaki, terletak di sebelah timur Sungai Tiber. Di sini Epafroditus dapat melihat - dan merasakan - luasnya perdagangan yang mengalir masuk dan keluar Kota Roma. Di tengah sesaknya toko-toko kecil dan para pedagang, seseorang dapat mendengarkan obrolan dan tawar-menawar yang dilakukan dalam dua belas macam bahasa. Dalam beberapa hal Emporium ini menyerupai Bazar Raksasa di Kota Istambul yang modern.

Hampir segala sesuatu dapat dibeli di Roma. Angsa-angsa dibawa melalui jalan-jalan raya dari daerah Belgium yang jauh. Hal ini dilakukan untuk memuaskan permintaan para pembeli yang ingin makan hati angsa. Dari bagian lain dunia berdatangan sutra, anggur, emas, gandum, gading gajah. Seseorang dengan mudah dapat membeli madu, kertas dari kulit, obat, buah, gelas, parfum, intan permata.

Biasanya para budak dijual pada pelelangan umum; dan karena selalu ada permintaan tetap, ada banyak tempat pelelangan budak. Pada suatu pelelangan khusus, seorang budak yang dirantai tangan dan kakinya ditempatkan pada suatu panggung dan berdiri di depan para penawar. Sebuah gulungan kertas yang bertuliskan suatu jaminan untuk enam bulan digantungkan di leher budak itu. Dalam dokumen ini ditulis nama, kebangsaan, kecakapan, dan sifat budak itu. Tak ada orang yang mau membayar mahal untuk seorang budak yang menderita penyakit ayan. Biasanya ada seorang dokter yang menjaga. Dokter akan menyuruh budak itu menanggalkan pakaiannya dan kemudian ia akan mengumumkan keadaan fisik budak itu kepada pembeli yang berminat.
Harga budak-budak ini bermacam-macam. Para saudagar seringkali ikut serta dalam pasukan-pasukan Romawi. Setiap akhir suatu kemenangan, sebuah tombak ditancapkan ke dalam tanah dan seorang pedagang budak dapat mulai membeli. Para jenderal menyenangi sistem seperti ini. Penjualan budak ini menghindarkan mereka dari persoalan tawanan perang.

Sementara para tawanan dibawa ke tempat ini untuk dijual, di atas kepala mereka masing-masing diletakkan sebuah rangkaian bunga berbentuk lingkaran yang menyatakan: sub corona venire - dijual di bawah mahkota. Tawanan perang yang dijadikan budak itu harganya paling rendah sedolar seorang. Harga murah ini bisa dimengerti sebab banyak budak akan mati sebelum mereka mencapai pasar budak di Roma. Karena tidak terbiasa menjadi budak, banyak tawanan perang yang membunuh diri. Seorang budak yang berpendidikan akan mahal harganya, karena mereka bisa dipakai untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan keahlian tertentu. Tetapi harga seorang budak biasa kurang dari 100 dolar. Horace pada sekitar tahun 65 - 68 s.M. menyebutkan tentang seorang budak yang dibeli Marcus Scaurus seharga 28.000 dolar.

Pada waktu pelelangan, para budak yang tidak memiliki suatu jaminan memakai topi dan budak-budak yang didatangkan dari luar negeri diberi tanda putih di kakinya. Alasannya ialah bahwa ada suatu tugas khusus bagi budak-budak yang datang dari luar.

Berbelanja di Roma sama halnya seperti berbelanja di suatu kota modern. Pada saat itu uang kertas belum ada. Tetapi pajak penjualan sudah ada, dan harus dibayar kontan.

Jika Epafroditus kebetulan berhenti pada suatu toko buku, ia akan melihat keterangan-keterangan dan daftar-daftar judul ditempelkan di dinding sebelah luar. Toko-toko buku Romawi menjual gulungan-gulungan surat yang dibuat dari kulit dan papirus. Mereka juga menjual banyak naskah kuno - buku-buku yang sudah dijilid. Buku-buku diterbitkan dalam setiap edisi sebanyak 1.000 jilid, dan dengan mempertimbangkan bahwa buku-buku itu harus ditulis dengan tangan, harganya cukup pantas. Buku-buku kecil dijual seharga 1,50 dolar, sementara edisi lux yang sering kali dicantumkan juga potret pengarangnya, harganya sekitar 3 dolar.

Perpustakaan, baik pribadi maupun umum, sangat populer. Salah satu perpustakaan yang terkenal ialah Bibliotheca Ulpia yang didirikan oleh Trayan. Sering kali ada ruangan-ruangan baca di tempat pemandian umum. Seperti di zaman modern ini, perpustakaan-perpustakaan yang lebih baik sering kali dikunjungi orang-orang terkemuka.

Orang Romawi senang makan dan minum. Di Kota Roma saja 25.000.000 galon anggur dihabiskan setiap tahunnya. Jadi rata-rata setiap pria, wanita, anak, budak atau warga negara menghabiskan 2 liter anggur setiap minggu.

Orang-orang yang sangat kaya menghabiskan sebagian besar waktunya untuk makan. Suatu perjamuan khusus dimulai dari jam 4.00 sore dan berakhir tengah malam. Daging yang paling disukai ialah daging babi, dan menurut Pliny seekor babi sedikitnya dapat dihidangkan dalam lima puluh jenis masakan. Suatu makanan yang paling banyak disukai yang diciptakan oleh Tiberius dibuat dari hati seekor babi yang dimasak dengan buah ara. Pada perjamuan-perjamuan seperti ini meja-meja dihiasi dengan bunga-bunga, udara dipenuhi oleh bau parfum, dan para pelayan berpakaian rapi. Musik juga disediakan, dan wanita-wanita cantik menari, sering kali tanpa busana, atau hampir-hampir tanpa busana.

Segala macam masakan yang aneh-aneh dihidangkan di pesta itu. Belut dan siput merupakan makanan populer, begitu juga lidah burung Flamingo, sayap burung unta, dan burung penyanyi. Setelah seorang Romawi mengisi perutnya sehingga ia tidak dapat menelan makanan lagi, ia meminta izin keluar dan pergi ke vomitorium (tempat untuk memuntahkan makanan). Seneca mengeluh tentang praktek seperti ini. Ia berkata, "Vomunt ut edant, edant ut vomant - mereka muntah untuk makan dan makan untuk muntah." Setelah mereka memuntahkan isi perut, dengan terhuyung-huyung mereka kembali ke meja makan untuk makan lebih banyak lagi.

Berbagai macam suku bangsa saling berdesak-desakan di jalanan. Dan untuk mengenali mereka seseorang tidak perlu menjadi seorang ahli lebih dahulu. Kebanyakan orang Romawi bercukur rapi, yaitu sampai masa Hadrian. Guntingan rambut pertama dari seorang pemuda biasanya dipersembahkan kepada seorang dewa. Orang-orang Briton yang terbelakang cukup jelas dikenal karena badan mereka dihiasi tatto dan orangnya kasar.

Para budak juga mudah dikenal. Biasanya seorang budak memakai tunic, semacam kaos oblong yang panjangnya sampai ke lutut, dan sepatu kayu. Selain itu, jika mereka telah mencoba untuk melarikan diri, di dahinya dicap huruf F, yang berarti fugitivus. Sebagian yang lain memakai rantai metal di lehernya. Beberapa dari rantai leher ini masih disimpan dalam museum sampai sekarang. Ada sebuah kalung yang bertuliskan: Fugi. Tene me. Cum Revocaveris me d.m. Zonino, accipis solidum - "Saya telah melarikan diri. Tangkaplah saya. Jika Anda mengembalikan saya kepada majikan saya Zoninus, Anda akan menerima hadiah."

Jumlah penduduk orang Yahudi kira-kira 20.000 dan mereka berpakaian sama seperti orang-orang Yahudi yang tinggal di Yerusalem - berjenggot dan sebagainya. Walaupun mereka sering kali diusir dari Roma, biasanya kebanyakan dari antara mereka kembali lagi setelah amarah kaisar mereda. Tetapi secara keseluruhan orang-orang Yahudi tidak menonjol dalam bidang perdagangan pada waktu itu. Pedagang-pedagang terkemuka adalah orang-orang Syria dan Yunani.

Toga hanya dipakai pada kesempatan-kesempatan resmi, dan yang boleh memakainya hanyalah warga negara Romawi. Orang asing yang terkemuka pun tidak diperkenankan memakai jubah ini; dan bila seorang warga negara Romawi dibuang, ia harus meninggalkan toganya di Italia. Untuk pakaian sehari-hari, orang Romawi mengenakan blus. Tidak ada kancing atau kaos kaki. Biasanya kaum pria memotong pendek rambut mereka. Tetapi ada beberapa pesolek yang memakai rambut palsu, dan kadang- kadang ada yang mencat kepalanya yang sudah botak. Wanita-wanita modern memakai pemerah pipi, mempunyai banyak budak yang menghabiskan beberapa jam untuk memotong kuku, mengeriting rambut, dan menghitamkan alis dan bulu mata mereka. Beberapa wanita mandi air susu keledai. Popaea, isteri Nero, begitu tertarik dengan gagasan ini, sehingga ke mana pun ia pergi, ia selalu membawa serta sekawanan keledai!

Karena sampai zaman Hadrian orang-orang Romawi masih membakar mayat, maka tidak ada kuburan-kuburan bergaya barat di Italia. Dan orang- orang Romawi yang mengubur jenazah biasanya dimakamkan di pinggir jalan raya. Mereka diperkenankan melakukan hal ini asalkan monumen kuburan itu dibangun secara luas. Sisa-sisa reruntuhan kuburan ini masih dapat dilihat di sepanjang jalanan Apia.

Karena tidak mempunyai tempat kuburan untuk jenazah, orang Yahudi menggali saluran-saluran di bawah tanah di luar kota dan menguburkan jenazah-jenazah dalam dinding-dinding di bawah tanah. Batu vulkanis yang lunak yang dikenal dengan nama tuga, sangat mudah dipotong. Pada waktu itu ada pekerja-pekerja yang dikenal sebagai para penggali kuburan. Dengan demikian lahirlah suatu sistem penguburan di dalam tanah yang terkenal. Setelah kematian Paulus, orang-orang Kristen mulai membangun kuburan-kuburan baru di dalam tanah. Mereka memakai terowongan-terowongan tempat kuburan itu sebagai tempat persembunyian, dan kadang-kadang mereka menggali ruangan-ruangan yang sangat besar untuk mendapatkan tempat ibadah yang cukup luas.

Panjangnya dan luasnya tempat kuburan di dalam tanah di bawah Kota Roma yang modern itu kira-kira 600 mil.

Bilamana orang-orang asing yang miskin mati di Roma, jenazah-jenazah mereka dilemparkan ke dalam lubang persegi empat sedalam dua belas kaki di sebelah timur Bukit Esquiline. Kuburan masal ini berfungsi juga sebagai kuburan binatang. Karena lubang itu tidak ada tutupnya, bau busuknya tak tertahankan. Daerah ini seperti sebuah kota tempat pembuangan sampah. Sampah yang tidak dapat dibuang melalui sistem saluran tertentu diangkut ke tempat itu. Bukit ini juga berfungsi sebagai tempat untuk menghukum para penjahat kriminil. Setelah mereka mati tersalib, mayat mereka tidak dilepaskan dari salib itu. Tubuh yang sudah mati itu dibiarkan tergantung sehingga dapat dimakan burung, serigala dan binatang buas pemakan bangkai lain yang tinggal bergerombol di situ.

Pada akhir pemerintahannya, Agustus menyombongkan diri dan berkata, "Ketika aku menemukan Roma, kota ini dibangun dari batu merah, tapi ketika aku meninggalkannya, kota ini telah terbungkus dengan batu marmer." Dalam banyak hal memang benar. Dalam perjalanan ke tempat tinggal Paulus, Epafroditus pasti melihat batu marmer di setiap sisi jalan. Ada barisan tiang penopang atap yang tinggi terbuat dari batu marmer, bangunan-bangunan umum yang putih mengkilap, dan banyak kuil untuk memuja para dewa. Suetonius mencatat bahwa Agustus "memperbaiki kuil-kuil yang hancur dan terbakar, memperindahnya secara mewah: misalnya sebuah sumbangan untuk Capitoline Jupiter yaitu 8.000 kg emas dan juga mutiara . . ." (The Twelve Caesars, karangan Seutonius). Untuk mendapatkan keindahan, ia tidak menghemat uang.

Tetapi, bangunan Colosseum belum ada pada zaman Paulus. Sebelum bangunan ini didirikan, kebanyakan orang pergi melihat peristiwa- peristiwa olah raga di Circus Maximus.

Persoalan lalu lintas tidaklah serumit seperti di kota-kota besar sekarang. Tetapi mereka masih mengalaminya, dan mereka terpaksa mengambil tindakan drastis. Caesar Yulius mengumumkan:
Sesudah matahari terbit atau sebelum sepuluh jam pertama pada hari itu . . . seorang pun tidak diperkenankan mengendarai sebuah kereta di jalan-jalan di daerah pinggiran di mana ada banyak perumahan, kecuali ada keperluan penting ... untuk mengangkut bahan-bahan bangunan kuil- kuil para dewa yang abadi atau pekerjaan-pekerjaan demi kepentingan umum, atau memindahkan sampah-sampah kota ... (Dikutip dari The Appian Way, A Journey, karangan Dora Jane Hamblin dan Mary Jane Crunsfeld.)

Apakah lalu lintas berjalan di sebelah kanan atau di sebelah kiri tidaklah diketahui. Tetapi Albert C. Rose berpendapat bahwa sisi jalan itu "bermacam-macam, tergantung di mana si pengemudi duduk memegang kendali dan keretanya."

Kota Roma pada zaman Perjanjian Baru merupakan suatu kota tua yang kuat. Jika semasa Paulus di penjara ada orang yang berpendapat bahwa Kerajaan Romawi akan runtuh, orang itu tentu dianggap gila. Tetapi hal itu benar-benar terjadi. Dalam tabun 410, Alaric dan suku bangsa Goth menyapu Italia. Mereka bahkan menduduki Roma dan menjarahnya secara mengerikan selama tiga hari. Dan setengah abad kemudian Roma diduduki sekali lagi dan dijarah - kali ini oleh bangsa Vandal.
Ironisnya, kaisar terakhir Roma adalah seorang anak yang bernama Romulus - nama yang sama dengan pendiri kota itu menurut dongeng. Drama yang mengerikan ini memberi ilham pada seorang penyair Persia untuk menulis: "Laba-laba menenun tabir-tabir di dalam istana Caesar; burung hantu memanggil para penjaga menara Afrasiab."

Sejarah Arsenal FC

Sejarah Arsenal FC (1980-sekarang)


Di tahun 1991, Arsenal menjadi juara bersama dengan Tottenham di Community Shield setelah hasil kedudukan imbang 0-0 (saat itu, jika kedudukan seri maka kedua tim dianggap juara) . Puasa Arsenal akan gelar dari kompetisi Eropa akhirnya hilang setelah pada musim 1993-94, ditangan pelatih George Graham, Arsenal kembali juara di kancah Eropa, tepatnya di ajang Piala Winners setelah mengalahkan klub Parma FC dengan skor 1-0. Pada musim berikutnya, Arsenal kembali berhasil ke final di ajang yang sama, tapi kali ini mereka dikalahkan oleh Real Zaragoza dengan skor 2-1.
Kedatangan pelatih Arsène Wenger ke Arsenal pada tahun 1996 berhasil membuat Arsenal kembali berjaya dan berhasil merusak dominasi Manchester United di Liga Utama Inggris pada saat itu. Arsenal pun dibawanya berhasil menjadi runner-up di ajang Piala UEFA pada tahun 2000 setelah melawan Galatasaray lewat adu penalti 4-1 setelah kedudukan imbang. Pada musim 2003-04 hingga awal musim 2004-05, Arsenal berhasil mencetak rekor 49 pertandingan tak terkalahkan dan mematahkan rekor milik Nottingham Forest F.C. (42 kali) yang merupakan rekor tak terkalahkan terpanjang di dalam sejarah sepak bola Inggris. Pada musim 2005-06, Arsenal kembali meraih prestasi di kancah Eropa dengan menjadi finalis Liga Champions setelah dikalahkan FC Barcelona 2-1 di Stade de France, Paris.
Arsenal di masa kepelatihan Wenger mempunyai kebijakan yang bagus dalam pembinaan pemain-pemain muda yang tadinya tidak berkualitas maupun pemain berkualitas tapi kurang dikenal menjadi pemain yang mampu menunjukan telenta-talenta yang sangat luar biasa sekaligus diincar klub papan atas Eropa. Selain itu, Arsenal mempunyai kebijakan pemberian kontrak pada pemain yang telah berumur 30 tahun keatas, yaitu tidak lebih dari satu musim saja.

Sejarah Arema Indonesia


Nama Arema adalah legenda Malang. Adalah Kidung Harsawijaya yang pertama kali mencatat nama tersebut, yaitu kisah tentang Patih Kebo Arema di kala Singosari diperintah Raja Kertanegara. Prestasi Kebo Arema gilang gemilang. Ia mematahkan pemberontakan Kelana Bhayangkara seperti ditulis dalam Kidung Panji Wijayakrama hingga seluruh pemberontak hancur seperti daun dimakan ulat. Demikian pula pemberontakan Cayaraja seperti ditulis kitab Negarakretagama.
Kebo Arema pula yang menjadi penyangga politik ekspansif Kertanegara. Bersama Mahisa Anengah, Kebo Arema menaklukkan Kerajaan Pamalayu yang berpusat di Jambi. Kemudian bisa menguasai Selat Malaka. Sejarah heroik Kebo Arema memang tenggelam. Buku-buku sejarah hanya mencatat Kertanegara sebagai raja terbesar Singosari, yang pusat pemerintahannya dekat Kota Malang.
Sampai akhirnya pada dekade 1980-an muncul kembali nama Arema. Tidak tahu persis, apakah nama itu menapak tilas dari kebesaran Kebo Arema. Yang pasti, Arema merupakan penunjuk sebuah komunitas asal Malang. Arema adalah akronim dari Arek Malang.
Arema kemudian menjelma mejadi semacam “subkultur” dengan identitas, simbol dan karakter bagi masyarakat Malang. Diyakini, Arek Malang membangun reputasi dan eksistensinya di antaranya melalui musik rock dan olahraga. Selain tinju, sepakbola adalah olahraga yang menjadi jalan bagi arek malang menunjukkan reputasinya. Sehingga kelahiran tim sepakbola Arema adalah sebuah keniscayaan.
Kesebelasan Arema (Arema Football Club/Persatuan Sepakbola Arema nama resminya) lahir pada tanggal 11 Agustus 1987, dengan semangat mengembangkan persepakbolaan di Malang. Pada masa itu, tim asal Malang lainnya Persema bagai sebuah magnet bagi arek Malang. Stadion Gajayana – home base klub pemerintah itu – selalu disesaki penonton. Di mana Arema waktu itu ? Yang pasti, ia belum mengejawantah sebagai sebuah komunitas sepakbola. Ia masih jadi sebuah “utopia”.
Adalah Acub Zaenal yang kali pertama punya andil menelurkan pemikiran membentuk klub galatama. Jasa “Sang Jenderal” tidak terlepas dari peran Ovan Tobing, humas Persema saat itu. “Saya masih ingat, waktu itu Pak Acub Zaenal saya undang ke Stadion Gajayana ketika Persema lawan Perseden, Denpasar,” ujar Ovan. Melihat penonon membludak, Acub yang kala itu menjadi Administratur Galatama lantas mencetuskan keinginan mendirikan klub galatama. “You bikin saja (klub) Galatama di Malang,” kata Ovan menirukan ucapan Acub.
Beberapa hari setelah itu, Ir Lucky Acub Zaenal –putra Mayjen TNI (purn.) Acub Zaenal– mendatangi Ovan di rumahnya, Jl. Gajahmada 15. Ia diantar Dice Dirgantara yang sebelumnya sudah kenal dengan dirinya. “Waktu itu Lucky masih suka tinju dan otomotif,” katanya. Dari pembicaraan itu, Ovan menegaskan kalau dirinya tidak punya dana untuk membentuk klub galatama. “Saya hanya punya pemain,” ujarnya. Maka dipertemukanlah Lucky dengan Dirk “Derek” Sutrisno (Alm), pendiri klub Armada ‘86.
Harus diakui, awal berdirinya Arematidak lepas dari peran besar Derek dengan Armada 86-nya. Nama Arema awalnya adalah Aremada-gabungan dari Armada dan Arema. Namun nama itu tidak bisa langgeng. Beberapa bulan kemudian diganti menjadi Arema`86. Sayang, upaya Derek untuk mempertahankan klub Galatama Arema`86 banyak mengalami hambatan, bahkan tim yang diharapkan mampu berkiprah di kancah Galatama VIII itu mulai terseok-seok karena dihimpit kesulitan dana.
Dari sinilah, Acub Zaenal dan Lucky lantas mengambil alih dan berusaha menyelamatkan Arema`86 supaya tetap survive. Setelah diambil alih, nama Arema`86 akhirnya diubah menjadi Arema dan ditetapkan pula berdirinya Arema Galatama pada 11 Agustus 1987 sesuai dengan akte notaris Pramu Haryono SH–almarhum–No 58. “Penetapan tanggal 11 Agustus 1987 itu, seperti air mengalir begitu saja, tidak berdasar penetapan (pilihan) secara khusus,” ujar Ovan mengisahkan.
Hanya saja, kata Ovan, dari pendirian bulan Agustus itulah kemudian simbol Singo (Singa) muncul. “Agustus itu kan Leo atau Singo (sesuai dengan horoscop),”imbuh Ovan. Dari sinilah kemudian, Lucky dan, Ovan mulai mengotak-atik segala persiapan untuk ewujudkan obsesi berdirinya klub Galatama kebanggaan Malang. Segala tetek-bengek mulai pemain, tempat penampungan (mess pemain), lapangan sampai kostum mulai diplaning.
Bahkan, gerilya mencari pemain yang dilakukan Ovan satu bulan sebelum Arema resmi didirikan.Pemain-pemain seperti Maryanto (Persema), Jonathan (Satria Malang), Kusnadi Kamaludin (Armada), Mahdi Haris (Arseto), Jamrawi dan Yohanes Geohera (Mitra), sampai kiper Dony Latuperisa yang kala itu tengah menjalani skorsing PSSI karena kasus suap, direkrut. Pelatih sekualitas Sinyo Aliandoe, juga bergabung.
Hanya saja, masih ada kendala yakni menyangkut mess pemain. Beruntung, Lanud Abd Saleh mau membantu dan menyediakan barak prajurit Pas Khas untuk tempat penampungan pemain. Selain barak, lapangan Pagas Abd Saleh, juga dijadikan tempat berlatih. Praktis Maryanto dkk ditampung di barak. “TNI AU memberikan andil yang besar pada Arema,” papar Ovan.
Sempat ada kendala, yakni masalah dana – masalah utama yang kelak terus membelit Arema. “Kalau memang tidak ada alternatif lain, ya papimu Luk yang harus mendanai,” jelas Ovan saat mengantarnya ke Bandara Juanda. Sepulang dari Jakarta, Acub Zaenal sepakat menjadi penyandang dana.
Prestasi klub Arema bisa dibilang seperti pasang surut, walaupun tak pernah menghuni papan bawah klasemen, hampir setiap musim kompetisi Galatama Arema F.C. tak pernah konstan di jajaran papan atas klasemen, namun demikian pada tahun 1992 Arema berhasil menjadi juara Galatama. Dengan modal pemain-pemain handal seperti Aji Santoso, Micky Tata, Singgih Pitono, Jamrawi dan eks pelatih PSSI M.Basri, Arema mampu mewujudkan mimpi masyarakat kota Malang menjadi juara kompetisi elit di Indonesia.
Sejak mengikuti Liga Indonesia, Arema F.C. tercatat pernah 3 kali masuk putaran kedua atau 8 besar. Yang pertama pada musim kompetisi Liga Indonesia ke II tahun 1995 , pada musim kompetisi Liga Indonesia ke VI tahun 2000 dan musim Liga Indonesia ke VII tahun 2001, Arema kembali mengulangi suksesnya masuk putaran 8 besar yang berlangsung di Jakarta.
Walaupun berprestasi lumayan, tapi Arema tidak pernah lepas dari masalah dana. Hampir setiap musim kompetisi masalah dana ini selalu menghantui. Sehingga tak heran hampir setiap musim manajemen klub selalu berganti. Pada tahun 2003, Arema mengalami kesulitan keuangan parah yang berpengaruh pada prestasi tim. Hal tersebut yang kemudian membuat Arema FC diakuisisi kepemilikannya oleh PT Bentoel Internasional Tbk pada pertengahan musim kompetisi 2003.
Meski demikian, keberadaan Arema tetap tidak terselamatkan sehingga harus degradasi ke Divisi I. Tak lama kemudian, dengan materi dan dana dari pemilik baru, Arema berhasil menjadi juara Divisi I Liga Indonesia 2004 dan kembali berlaga di Divisi Utama pada musim kompetisi 2005.
Tahun 2008 Arema memasuki era Liga Super Indonesia yang diselenggarakan oleh PSSI dengan yang diatur oleh BLI ( Badan Liga Indonesia ), dalam kompetisi di Liga Super ini semua tim yang ikut haruslah sebagai tim yang sudah profesional. Yang menjadi penilaian dari tim profesional adalah dengan lolosnya verifikasi dari BLI. Termasuk Arema yang dari pertama di gelarnya Liga Super sudah lolos verifikasi. Arema mengakhiri Liga Super I dengan bertengger di posisi 10.
Tahun 2009 Liga Super Indonesia mulai berjalan, namun lagi lagi Arema harus mengalami kesulitan dana PT. Bentoel yang memegang Arema harus menyerahkan ke pemilikan Arema ke Yayasan Arema yang di ketuai oleh Darjoto Setiawan karena PT. Bentoel tidak bisa mendanai Arema lagi disebabkan oleh regulasi BLI yang melarang produk sejenis sponsor Liga menjadi sponsor tim. Selain itu PT. Bentoel juga mengalami perubahan kebijakan setelah di akuisisi oleh PT. British Asia Tobacco. Dalam masa sulit itu pula BLI mengeluarkan kebijakan lagi dengan mengahruskan tim Liga Super untuk menjadi tim yang berbadan hukum. Sehingga keputusan ini memaksa Arema mendaftarkan namanya menjadi PT. Arema Indonesia.
Dari Semua tim yang berlaga di Liga Super hanya Arema Indonesia lah yang menjadi tim profesional karena hanya Arema Indonesia lah yang memakai dana sepenuhnya dari swasta bukan dari APBD, sehingga Arema lebih sering dilanda masalah keuangan. Hingga saat tulisan ini ditulis Arema masih tetap Arema yang berhome base di Kota Malang tercinta dengan didukung oleh ribuan pendukung fanatiknya AREMANIA.

Salam Satu Jiwa Arema Indonesia

Persija (Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta) merupakan klub sepakbola professional dari DKI Jakarta. Didirikan pada 28 November 1928. Nama awalnya adalah bernama Voetbalbond Indonesish Jakarta (VIJ). Persija dikelola dibawa Pemrpov DKI Jakarta. Kini Persija menggunakan Stadion Utama Gelora Bung Karno sebagai stadion kandangnya, dulu menggunakan Stadion Lebak Bulus.
Persija memiliki julukan Macan Kemayoran. Fans fanatik Persija disebut The Jakmania. Dimasa kompetisi/liga Perserikatan Persija menorehkan prestasi cemerlang dengan menjuarai Perserikatan sebanyak 9 Kali, 4 kali diantaranya ketika bernama VIJ. Adapun seiring perubahan format Liga Indonesia, prestasi terbaik Persija adalah Juara Liga Indonesia pada tahun 2001. Adapun di tingkat internasional Persija menjadi Juara Piala Sultan Brunei Darussalam tahun 2000.
Sebagai tim ibu kota Persija kerap memiliki banyak pemain bintang dan pelatih ternama untuk kategori Indonesia, namun prestasi Persija sejak terakhir menjadi Juara pada tahun 2001 tidak sebaik saat kompetisi Perserikatan.

Sejarah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI)

Sejarah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) 
  •  Sekilas Tentang PSSI
PSSI (Persatuan Sepakbola seluruh Indonesia ) yang dibentuk 19 April 1930 di Yogyakarta. Sebagai organisasi olahraga yang dilahirkan di Zaman penjajahan Belanda, Kelahiran PSSI betapapun terkait dengan kegiatan politik menentang penjajahan. Jika meneliti dan menganalisa saat- saat sebelum, selama dan sesudah kelahirannya, sampai 5 tahun pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, jelas sekali bahwa PSSI lahir, karena dibidani politisi bangsa yang baik secara langsung maupun tidak, menentang penjajahan dengan strategi menyemai benih – benih nasionalisme di dada pemuda-pemuda Indonesia.
•  Awal Mula Berdirinya PSSI
PSSI didirikan oleh seorang insinyur sipil bernama Soeratin Sosrosoegondo. Beliau menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman pada tahun 1927 dan kembali ke tanah air pada tahun 1928. Ketika kembali ke tanah air Soeratin bekerja pada sebuah perusahaan bangunan Belanda “Sizten en Lausada” yang berpusat di Yogyakarta. Disana ia merupakan satu – satunya orang Indonesia yang duduk dalam jajaran petinggi perusahaan konstruksi yang besar itu. Akan tetapi, didorong oleh jiwa nasionalis yang tinggi Soeratin mundur dari perusahaan tersebut.
Setelah berhenti dari “Sizten en Lausada” ia lebih banyak aktif di bidang pergerakan, dan sebagai seorang pemuda yang gemar bermain sepakbola, Soeratin menyadari sepenuhnya untuk mengimplementasikan apa yang sudah diputuskan dalam pertemuan para pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 (Sumpah Pemuda) Soeratin melihat sepakbola sebagai wahana terbaik untuk menyemai nasionalisme di kalangan pemuda, sebagai tindakan menentang Belanda.
Untuk melaksanakan cita – citanya itu, Soeratin mengadakan pertemuan demi pertemuan dengan tokoh – tokoh sepakbola di Solo, Yogyakarta dan Bandung . Pertemuan dilakukan dengan kontak pribadi menghindari sergapan Polisi Belanda (PID). Kemudian ketika diadakannya pertemuan di hotel kecil Binnenhof di Jalan Kramat 17, Jakarta dengan Soeri – ketua VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta) bersama dengan pengurus lainnya, dimatangkanlah gagasan perlunya dibentuk sebuah organisasi persepakbolaan kebangsaan, yang selanjutnya di lakukan juga pematangan gagasan tersebut di kota Bandung, Yogya dan Solo yang dilakukan dengan tokoh pergerakan nasional seperti Daslam Hadiwasito, Amir Notopratomo, A Hamid, Soekarno (bukan Bung Karno), dan lain – lain. Sementara dengan kota lainnya dilakukan kontak pribadi atau kurir seperti dengan Soediro di Magelang (Ketua Asosiasi Muda).
Kemudian pada tanggal 19 April 1930, berkumpullah wakil – wakil dari VIJ (Sjamsoedin – mahasiswa RHS); wakil Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (BIVB) Gatot; Persatuan Sepakbola Mataram (PSM) Yogyakarta, Daslam Hadiwasito, A.Hamid, M. Amir Notopratomo; Vortenlandsche Voetbal Bond (VVB) Solo Soekarno; Madioensche Voetbal Bond (MVB), Kartodarmoedjo; Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM) E.A Mangindaan (saat itu masih menjadi siswa HKS/Sekolah Guru, juga Kapten Kes.IVBM) Soerabajashe Indonesische Voetbal Bond (SIVB) diwakili Pamoedji. Dari pertemuan tersebut maka, lahirlah PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia) nama PSSI ini diubah dalam kongres PSSI di Solo 1950 menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia yang juga menetapkan Ir. Soeratin sebagai Ketua Umum PSSI.
Begitu PSSI terbentuk, Soeratin dkk segera menyusun program yang pada dasarnya “menentang” berbagai kebijakan yang diambil pemerintah Belanda melalui NIVB. PSSI melahirkan “stridij program” yakni program perjuangan seperti yang dilakukan oleh partai dan organisasi massa yang telah ada. Kepada setiap bonden/perserikatan diwajibkan melakukan kompetisi internal untuk strata I dan II, selanjutnya di tingkatkan ke kejuaraan antar perserikatan yang disebut “Steden Tournooi” dimulai pada tahun 1931 di Surakarta .
Kegiatan sepakbola kebangsaan yang digerakkan PSSI , kemudian menggugah Susuhunan Paku Buwono X, setelah kenyataan semakin banyaknya rakyat pesepakbola di jalan – jalan atau tempat – tempat dan di alun – alun, di mana Kompetisi I perserikatan diadakan. Paku Buwono X kemudian mendirikan stadion Sriwedari lengkap dengan lampu, sebagai apresiasi terhadap kebangkitan “Sepakbola Kebangsaan” yang digerakkan PSSI. Stadion itu diresmikan Oktober 1933. Dengan adanya stadion Sriwedari ini kegiatan persepakbolaan semakin gencar.
Lebih jauh Soeratin mendorong pula pembentukan badan olahraga nasional, agar kekuatan olahraga pribumi semakin kokoh melawan dominasi Belanda. Tahun 1938 berdirilah ISI (Ikatan Sport Indonesia), yang kemudian menyelenggarakan Pekan Olahraga (15-22 Oktober 1938) di Solo.
Karena kekuatan dan kesatuan PSSI yang kian lama kian bertambah akhirnya NIVB pada tahun 1936 berubah menjadi NIVU (Nederlandsh Indische Voetbal Unie) dan mulailah dirintis kerjasama dengan PSSI. Sebagai tahap awal NIVU mendatangkan tim dari Austria “Winner Sport Club “ pada tahun 1936.
Pada tahun 1938 atas nama Dutch East Indies, NIVU mengirimkan timnya ke Piala Dunia 1938, namun para pemainnya bukanlah berasal dari PSSI melainkan dari NIVU walaupun terdapat 9 orang pemain pribumi / Tionghoa. Hal tersebut sebagai aksi protes Soeratin, karena beliau menginginkan adanya pertandingan antara tim NIVU dan PSSI terlebih dahulu sesuai dengan perjanjian kerjasama antara mereka, yakni perjanjian kerjasama yang disebut “Gentelemen's Agreement” yang ditandatangani oleh Soeratin (PSSI) dan Masterbroek (NIVU) pada 5 Januari 1937 di Jogyakarta. Selain itu, Soeratin juga tidak menghendaki bendera yang dipakai adalah bendera NIVU (Belanda). Dalam kongres PSSI 1938 di Solo, Soeratin membatalkan secara sepihak Perjanjian dengan NIVU tersebut.
Soeratin mengakhiri tugasnya di PSSI sejak tahun 1942, setelah sempat menjadi ketua kehormatan antara tahun 1940 – 1941, dan terpilih kembali di tahun 1942.
M asuknya balatentara Jepang ke Indonesia menyebabkan PSSI pasif dalam berkompetisi, karena Jepang memasukkan PSSI sebagai bagian dari Tai Iku Kai, yakni badan keolahragaan bikinan Jepang, kemudian masuk pula menjadi bagian dari Gelora (1944) dan baru lepas otonom kembali dalam kongres PORI III di Yogyakarta (1949).
•  Perkembangan PSSI
Pasca Soeratin ajang sepakbola nasional ini terus berkembang walaupun perkembangan dunia persepakbolaan Indonesia ini mengalami pasang surut dalam kualitas pemain, kompetisi dan organisasinya. Akan tetapi olahraga yang dapat diterima di semua lapisan masyarakat ini tetap bertahan apapun kondisinya. PSSI sebagai induk dari sepakbola nasional ini memang telah berupaya membina timnas dengan baik, menghabiskan dana milyaran rupiah, walaupun hasil yang diperoleh masih kurang menggembirakan.
Hal ini disebabkan pada cara pandang yang keliru. Untuk mengangkat prestasi Timnas, tidak cukup hanya membina Timnas itu sendiri, melainkan juga dua sektor penting lainnya yaitu kompetisi dan organisasi, sementara tanpa disadari kompetisi nasional kita telah tertinggal.
Padahal di era sebelum tahun 70-an, banyak pemain Indonesia yang bisa bersaing di tingkat internasional sebut saja era Ramang dan Tan Liong Houw, kemudian era Sucipto Suntoro dan belakangan era Ronny Pattinasarani.
Dalam perkembangannya PSSI sekarang ini telah memperluas jenis kompetisi dan pertandingan yang dinaunginya. Kompetisi yang diselenggarakan oleh PSSI di dalam negeri ini terdiri dari :
•  Divisi utama yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus non amatir.
•  Divisi satu yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus non amatir.
•  Divisi dua yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus non amatir.
•  Divisi tiga yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus amatir.
•  Kelompok umur yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain:
•  Dibawah usia 15 tahun (U-15)
•  Dibawah usia 17 tahun (U-170
•  Dibawah Usia 19 tahun (U-19)
•  Dibawah usia 23 tahun (U-23)
•  Sepakbola Wanita
•  Futsal.
PSSI pun mewadahi pertandingan – pertandingan yang terdiri dari pertandingan di dalam negeri yang diselenggarakan oleh pihak perkumpulan atau klub sepakbola, pengurus cabang, pengurus daerah yang dituangkan dalam kalender kegiatan tahunan PSSI sesuai dengan program yang disusun oleh PSSI. Pertandingan di dalam negeri yang diselenggarakan oleh pihak ketiga yang mendapat izin dari PSSI. Pertandingan dalam rangka Pekan Olahraga Daerah (PORDA) dan pekan Olah Raga Nasional (PON). Pertandingan – pertandingan lainnya yang mengikutsertakan peserta dari luar negeri atau atas undangan dari luar negeri dengan ijin PSSI.
Kepengurusan PSSI pun telah sampai ke pengurusan di tingkat daerah – daerah di seluruh Indonesia . Hal ini membuat Sepakbola semakin menjadi olahraga dari rakyat dan untuk rakyat.
Dalam perkembangannya PSSI telah menjadi anggota FIFA sejak tanggal 1 November 1952 pada saat congress FIFA di Helsinki. Setelah diterima menjadi anggota FIFA, selanjutnya PSSI diterima pula menjadi anggota AFC (Asian Football Confederation) tahun 1952, bahkan menjadi pelopor pula pembentukan AFF (Asean Football Federation) di zaman kepengurusan Kardono, sehingga Kardono sempat menjadi wakil presiden AFF untuk selanjutnya Ketua Kehormatan.
Lebih dari itu PSSI tahun 1953 memantapkan posisinya sebagai organisasi yang berbadan hukum dengan mendaftarkan ke Departement Kehakiman dan mendapat pengesahan melalui SKep Menkeh R.I No. J.A.5/11/6, tanggal 2 Februari 1953, tambahan berita Negara R.I tanggal 3 Maret 1953, no 18. Berarti PSSI adalah satu – satunya induk organisasi olahraga yang terdaftar dalam berita Negara sejak 8 tahun setelah Indonesia merdeka.

sejarah monumen masional



sejarah monumen masional


Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda.

Monumen Nasional yang terletak di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, dibangun pada dekade 1961an.

Tugu Peringatan Nasional dibangun di areal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Soedarsono dan Frederich Silaban, dengan konsultan Ir. Rooseno, mulai dibangun Agustus 1959, dan diresmikan 17 Agustus 1961 oleh Presiden RI Soekarno. Monas resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.

Pembagunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terbangkitnya inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.

Tugu Monas yang menjulang tinggi dan melambangkan lingga (alu atau anatan) yang penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Semua pelataran cawan melambangkan Yoni (lumbung). Alu dan lumbung merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah penduduk pribumi Indonesia.

Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur


Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obeliks yang terbuat dari marmer yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan ini tingginya 132 m.

Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35kg. Lidah api atau obor ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan.

Pelataran puncak dengan luas 11x11 dapat menampung sebanyak 50 pengunjung. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Arah ke selatan berdiri dengan kokoh dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil berserakan. Bila menoleh ke Barat membentang Bandara Soekarno-Hatta yang setiap waktu terlihat pesawat lepas landas.

Dari pelataran puncak, 17 m lagi ke atas, terdapat lidah api, terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dan berdiameter 6 m, terdiri dari 77 bagian yang disatukan.

Pelataran puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang berarti melambangkan Bangsa Indonesia agar dalam berjuang tidak pernah surut sepanjang masa. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 m dan ruang museum sejarah 8 m. Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45x45 m, merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).

Pengunjung kawasan Monas, yang akan menaiki pelataran tugu puncak Monas atau museum, dapat melalui pintu masuk di seputar plaza taman Medan Merdeka, di bagian utara Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda, terbuat dari perunggu seberat 8 ton.

Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario di Indonesia. Melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung ke tugu puncak Monas yang berpagar "Bambu Kuning".

Landasan dasar Monas setinggi 3 m, di bawahnya terdapat ruang museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80x80 m, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang.

Pada keempat sisi ruangan terdapat 12 jendela peragaan yang mengabdikan peristiwa sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia. Keseluruhan dinding, tiang dan lantai berlapis marmer. Selain itu, ruang kemerdekaan berbentuk amphitheater yang terletak di dalam cawan tugu Monas, menggambarkan atribut peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kemerdekaan RI, bendera merah putih dan lambang negara dan pintu gapura yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di dalam bangunan Monumen Nasional ini juga terdapat museum dan aula untuk bermeditasi. Para pengunjung dapat naik hingga ke atas dengan menggunakan elevator. Dari atau Monumen Nasional dapat dilihat kota Jakarta dari puncak monumen. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari, mulai pukul 09.00 - 16.00 WIB.

Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obeliks yang terbuat dari marmer yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan ini tingginya 132 m.

Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35kg. Lidah api atau obor ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan.

Pelataran puncak dengan luas 11x11 dapat menampung sebanyak 50 pengunjung. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Arah ke selatan berdiri dengan kokoh dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil berserakan. Bila menoleh ke Barat membentang Bandara Soekarno-Hatta yang setiap waktu terlihat pesawat lepas landas.

Dari pelataran puncak, 17 m lagi ke atas, terdapat lidah api, terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dan berdiameter 6 m, terdiri dari 77 bagian yang disatukan.

Pelataran puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang berarti melambangkan Bangsa Indonesia agar dalam berjuang tidak pernah surut sepanjang masa. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 m dan ruang museum sejarah 8 m. Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45x45 m, merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).

Pengunjung kawasan Monas, yang akan menaiki pelataran tugu puncak Monas atau museum, dapat melalui pintu masuk di seputar plaza taman Medan Merdeka, di bagian utara Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda, terbuat dari perunggu seberat 8 ton.

Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario di Indonesia. Melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung ke tugu puncak Monas yang berpagar "Bambu Kuning".

Landasan dasar Monas setinggi 3 m, di bawahnya terdapat ruang museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80x80 m, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang.

Pada keempat sisi ruangan terdapat 12 jendela peragaan yang mengabdikan peristiwa sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia. Keseluruhan dinding, tiang dan lantai berlapis marmer. Selain itu, ruang kemerdekaan berbentuk amphitheater yang terletak di dalam cawan tugu Monas, menggambarkan atribut peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kemerdekaan RI, bendera merah putih dan lambang negara dan pintu gapura yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di dalam bangunan Monumen Nasional ini juga terdapat museum dan aula untuk bermeditasi. Para pengunjung dapat naik hingga ke atas dengan menggunakan elevator. Dari atau Monumen Nasional dapat dilihat kota Jakarta dari puncak monumen. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari, mulai pukul 09.00 - 16.00 WIB.

Di dalam monas juga terdapat tapak kaki presiden yang pernah memerintah Indonesia.
Dilihat dari namanya, ritual tapak kaki ini dimulai dari pemerintahan Suharto. Disana terpampang nama Jenderal Besar Suharto pada nama beliau. Dimana pemberian jenderal bintang lima dilakukan pada tahun 1996. Jadi pengambilan tapak kaki tersebut dimulai setelah tahun 1996. Oleh karena itu, untuk Sukarno yang ada hanya tapak sepatunya saja.

foto 1 : Tapak Sepatu Presiden Soekarno


foto 2 : Jejak Kaki presiden Soeharto


foto 3 : Jejak Kaki Presiden Habibie


foto 4 : Jejak Kaki presiden Abdurrahman Wahid


foto 5 : Jejak Kaki Presiden Megawati


foto 6 : Jejak Kaki Presiden Susilo Bambang Yudhoyono



beberapa sumber dari : wikipedia.org

sejarah sepak bola

sejarah sepak bola

Dalam sebuah dokumen militer disebutkan Sepak bola pertama kali dimainkan di China dengan nama tsu chu pada tahun 5000 sebelum masehi tepatnya pada masa dinasti Tsin. Awalnya, pada waktu itu sepak bola awalnya dipakai untuk melatih fisik para prajurit kerajaan. Namun, karena dianggap mengasyikkan, maka tidak hanya anggota kerajaan saja yang memainkannya, tapi juga rakyat di seluruh Cina.

Sedangkan Menurut Bill Muray, pakar sejarah sepak bola, dalam bukunya The World Game: A History of Soccer, sepak bola sudah dimainkan sejak awal Masehi. Saat itu, orang-orang di era Mesir Kuno sudah mengenal permainan membawa dan menendang bola yang dibuat dari buntalan kain linen. Sejarah Yunani Purba juga mencatat ada sebuah permainan yang disebut episcuro, permainan menggunakan bola. Bukti itu tergambar pada relief-relief di dinding museum yang melukiskan anak muda memegang bola bulat dan memainkannya dengan paha.

Di Jepang dikenal pula permainan semacam "tsu-chu" sekitar 500 - 600 tahun kemudian, meskipun tidak kompetitif seperti di Cina. Di Yunani juga mengenal olahraga pra sepak bola yang bernama "episkyros", juga di Romawi orang mengenal permainan "harpastum" yaitu permainan dengan bola berukuran kecil.

Banyak teori tentang siapa yang mula-mula melaksanakan permainan sepak bola ini. Tetapi yang pasti, Inggrislah yang mulai menyempurnakan sehingga perkembangannya halus seperti sekarang ini. Prakarsanya di mulai pada tahun 1963, ketika sebelas perkumpulan di London mengadakan pertemuan untuk menjernikan kekacauan dengan membuat serangkaian peraturan fundamental untuk mengatur pertandingan-pertandingan selanjutnya.

Dan pada tanggal 26 Oktober lahirlah Football Association yang pertama. Buntut dari pertemuan itu adalah keluarnya kelompok Rugby dalam rapat karena menolak peraturan yang melarang penginjakan, penendangan tulang kering dan melarikan/membawa bola. Akhirnya pada tanggal 8 Desember 1863, Rugby resmi mengurdurkan diri dan keduanya berjalan sendiri-sendiri.